SANG PEMIMPI
Tak halangi
dia sebagai pemimpi. Walau sakit dan derita dialami. Tapi tetap teguh ! itulah
yang diharapkan bangsa ini. Sosok pejuang walau nantinya pun akan dibuang. Tapi
ini tidak ! Sekarang pemimpi itu dibutuhkan. Untuk membuat negeri ini, menjadi
negeri yang aman, tentram,dan damai.
Ahmad Naufal Azizi sebagai Danang
Dhesy Erika sebagai Tina
Elyana Fadiah sebagai Embo
Tika Jayanti Purba sebagai Tiara Dan
Ibu Guru
Arini Zairina Putri sebagai Dinda
Inilah
pementasan drama dari kelompok 5, XI IPA-2 “SANG PEMIMPI”
SELAMAT
MENYAKSIKAN !
Danang : “Embo… Embo..?”
Embo : “Ya, Nang ?” ada apa? Embo di
dapur.”
Danang : “Emm.. ini Embo.. tadi bapak Kepala Sekolah bilang,
katanya duit Sekolah jangan nunggak lagi, sudah 6 bulan, kalau nggak dibayar
bisa dikeluarkan Embo…”
Embo :
“Iya, sabar ya Nang, Embo juga usaha cari duit, memang jaman sekarang nggak ada
yang instan, semuanya pada urusan duit. Yang penting Danang belajar aja dulu.
Jangan mikirkan soal duit, kalau duit Embo aja yang nanggung.”
Danang : “Nah itu dia Embo, Danang juga pengen kerja kaya Embo,
biar bisa bantu-bantu kehidupan kita Embo, terserah deh mau kerja apa, asalkan
halal Danang mau aja Embo.
Embo :
“Sudah deh Nang, nggak usah dipikirkan. Itu biar Embo aja.”
Danang : “Tapi Embo, ini kan juga karena kemauan Danang, jadi
nggak apa kan?”
Embo :
“Shhh…. Sudah, sudah.. nggak apa lah Nang.”
KLIK LINK DI BAWAH INI
Danang : “Hmmmmm, andai bapa’ masih ada ya Embo?”
Embo : “……………” (sambil kembali ke dapur).
Danang : “Embo…. Embo….?”
(berlari mengejar embo).
(Sore hari di bukit belakang rumah)
Danang : “Hmmm… Memang hidup itu perlu perjuangan, gimana ya,
bisa dapat duit buat bayar sekolah… aku harus bekerja, tapi apa? Duit aja nggak
punya, baju bagus nggak punya, aku ini cuman anak yang kehilangan masa depan.
Andai bapa’ masih ada.. pasti aku sudah sukses, aku ingin jadi pelaut kaya ayah,
ingin bisa nyebrangi laut, langkahi samudra, nerjang ombak, jadi nahkoda
terhebat. Aku ingin keliling dunia. Tapi apa? cuman perahu gubuk yang kupunya.
Apalagi yang bisa kulakukan?”
Embo :
“Danang?... “
Danang : “Eh, embo?, ko’ ada disini Embo?"
Embo :
“Kamu ngapain sore-sore disini Nang?”
Danang : “Eh, nggak anu Embo, cuman mau mandangin langit.”
Embo :
“Sudah Nang, jangan biasakan bohong. Embo tau, Danang lagi kangen sama bapa’
kan?
Danang : “Iii, iyya Embo.” (sambil
menunduk lesu).
Embo :
“Sudah lah, jangan terlalu dipikirkan. Bapa’ akan bangga punya anak seperti
Danang, jika Danang disini jadi orang hebat.”
Danang : “Tapi gimana Embo?, Danang tidak punya bakat apa-apa.
Danang tak pandai melaut kaya ayah. Danang bukan ahlinya Embo.”
Embo :
“Nang, kita memang dilahirkan tak mempunyai bakat yang sama dengan orang lain.
Tapi dengan berbeda kita bisa menjadi hebat Nang. Orang yang berani beda itu
biasanya sukses Nang. Manusia memang sering kalah, tapi ingat Nang, manusia
dilahirkan untuk tidak menyerah. Kamu pasti bisa Nang.”
Danang : “Hmmmmm…… Iya Embo (sambil
berdiri), Danang pasti bisa ! Matahari yang panas itu, akan Danang genggam
Embo.”
__________________________________________________________________________
(Saat di Sekolah)
Tina :
“Jeng-jeng.. tuh liat, ada Danang.”
Dinda :
“Iih anak miskin itu nggak dikeluarkan juga ya dari sekolah. Sudah 6 bulan nunggak
SPP. kapan sih dikeluarkannya?”
Tina :
“Sudah cukup sekolah ini nyimpan anak miskin kaya dia, nggak ada gunanya. Pantes
aja sekolah ini tertunda sertifikat ISOnya. Kalau kayak gini sampai kapanpun
kita nggak akan bisa dapatkan gelar SBI.”
Dinda :
“Iya, Tin. Andai dia sadar. Pasti sudah keluar dari sini.”
Tina :
“Iya-iya. Hmmmm, Sudah deh, nggak usah ngomongin dia, nggak betah lama-lama
ngomongin si anak miskin itu.”
Dinda :
“Haha, ya sudah lah, kalau miskin tetap aja miskin. Hidup itu politik, yang
kaya makin kaya yang miskin makin miskin.” (Sambil
berteriak).
Hahahaha (Mereka
tertawa dengan keras)… .
Ibu guru : “Sssshhh….. Sudah-sudah.. Tina,
Dinda, jangan ribut!
Tina & Dinda : “Iya bu.”
Danang : “Huuhhhh… kenapa sih mereka itu.
Ko’ cela aku terus. Emang aku ini salah apa. Memang aku ini miskin, tapi……………..(meresapi dalam-dalam), Apa aku berhak
untuk dihina?” (mengeraskan suaranya).
Ibu Guru : “Danang, jangan ribut!”
Danang : “Eh ibu, iya bu.. maaf.”
Tina & Dinda : “Hahaha… Rasain lho. !”
Ibu Guru : “Eh, kalian lagi, Danang,Tina,Dinda keluar.”
Semua :
“Haaahhh ?”
Ibu guru : “CEPAT !”
Tina :
“Tapi bu?”
Ibu guru : “CEPAT !”
Semua : “Iya, bu.”
(Saat pulang sekolah)
Tina : “Eh Nang, lho itu mendingan keluar
deh dari sekolah ini. Gara-gara lho tadi
Kami dikeluarkan dari sekolah.”
Dinda :
“Gini aja ya, Dari pada dikeluarkan paksa dari sekolah mending kamu keluar
Duluan
aja deh,”
Tina :
“Kasihan Nang lho itu, sudah miskin-miskin entar malah sengsara dikeluarkan dari sekolah.”
Dinda & Tina : “Hahahaha”.. (mereka tertawa).
Danang : “Iya Danang tahu, tapi Danang akan
bayar ko’. Danang akan cari kerja dulu, Danang akan usaha. Danang masih ingin
belajar di sekolah.
Tina : “Nggak usah deh, nih buat bayar sekolah (mengeluarkan uang receh lalu menghamburkannya). Tuh buat satu
tahun bayar sekolah.”
Dinda &
Tina : “Hahahaha…” (sambil mengejek lalu pergi).
Danang : “Aduh
ya Tuhan, mereka itu nggak hargai duit ya? Walaupun duit ini duit receh, tapi
tetap aja ini duit.” (sambil memungut
duit yang berceceran). Memang, aku ini kaya duit receh, nggak berguna. Tapi
duit receh itu hebat dia tidak bisa sobek, coba kalau duit kertas, sudah pasti
mudah sobek. Memang hebat jiwa orang yang bermental baja nan bertamengkan
perak. Wih, kaya Mario Bros aku, eh salah Mario Teguh.”
(Minggu siang di daerah bukit)
Tiara : “Aduh-aduh, lagi apes nih. Ko’ saat
seperti ini mobilnya malah mogok. Disini
Nggak ada bengkel lagi.”
Danang : “Ibu, ada apa ya bu? Ada yang bisa
saya bantu, kelihatannya lagi kesulitan.”
Tiara :
“Oh, iya nak, ini mobil saya mogok. Saya nggak tahu gimana cara benerinnya.
Kamu bisa bantu?”
Danang : “Oh kalau itu saya coba dulu ya bu,
saya sih lumayan bisa soal mesin. Saya sering bantu-bantu ayah sejak kecil di
kapal.”
Tiara : “Oh iiya silahkan.”
Danang : “Hmm.. ini.. ini… ini apanya yang
rusak ya?, ko’ beda sama mesin kapal bu?”
Tiara : “Yaiyah lah nak, ini mobil,
bukan kapal.”
Danang : “Oh iya-iya.. hmmm.. biar saya coba
dulu bu. Ini.. Emmmmm…. Kesini, terus,
ini ada yang longgar ni. Emmm ya sip. Dicoba dulu bu, siapa tahu bisa.”
Tiara : “ii,iya .” (sambil menyalakan mesin mobil). Wah bisa nak, terima kasih ya. Wah
untung ada kamu, jika tidak saya bisa lama disini, padahal masih banyak tugas
yang belum saya kerjakan. Oh iya siapa nama kamu?”
Danang : “iiya
sama-sama. Nama saya Danang bu.”
Saat
itu sebagai ungkapan terima kasih. Danang diajak Ibu Tiara untuk berkunjung
kerumahnya. Disana Danang dan ibu Tiara banyak bertukar cerita. Ternyata ibu
Tiara adalah seorang dosen di Universitas Indonesia yang kebetulan hari itu
lagi melakukan observasi mengenai lingkungan asri di desa Danang. Danang juga
menceritakan kesulitan keluarganya untuk memenuhi perekonomian keluarga.
SPP-nya yang belum dibayar selama 6 bulan. Teman-temannya yang sering
mengejeknya dikelas. Bahkan mengenai almarhum bapaknya yang seorang pelaut
hebat.
Karena
merasa kasihan dengan keluarga Danang, ibu Tiara memberikan sejumlah uang untuk
membiayai sekolahnya, sekaligus melunas SPP yang nunggak itu. Danang sangat
bahagia mengenai hal itu. Sebagai balasan terima-kasih Danang, sekarang dia
belajar dengan tekun di Sekolah maupun di rumah. Tekadnya Dia ingin melanjutkan
sekolah ke luar negeri dan membuatkan rumah yang bagus untuk Embonya.
Beberapa
hari berselang dan hari kelulusan SMA telah tiba. Saat kepala sekolah
mengumumkan hasil kelulusan, ternyata
Danang berhasil meraih peringkat pertama UN bukan satu sekolah,bukan satu
kabupaten, buakn satu provinsi, tapi sangat mencengangkan, yaitu sampai
Nasional. Dia berhasil mendapatkan juara Nasional dengan semangat dan
ketekunannya dalam belajar. Sifatnya yang tak pantang menyerah telah menjawab
keraguan dalam kemiskinannya. Sekarang dia berhasil. Hadiah yang didapatnya
dari itu berpuluhan juta. Dan untuk mewujudkan impiannya dia berhasil
mendapatkan bea siswa melanjutkan study ke Paris-Francis. Dia masuk Universitas
terbaik disana. Dia masuk jurusan mesin. Dan berhasil mengembangkan teknologi
mutakhir abad masa depan. Banyak penemuan yang dia peroleh.
Bertahun-tahun
berlalu dan akhirnya dia dinyatakan lulus dari Universitas di Francis dengan
menjadi salah satu mahasiswa berprestasi disana. Karena keinginannya bertemu
dengan Embonya di desa. Danang kembali ke Indonesia dengan banyak kesuksesan
yang dia peroleh. Dia ingin menceritakan semua ceritanya saat di Francis bersama
dengan Embonya. Dan itupun dimulai sekarang.
Embo : “Embo bangga nang bisa punya
anak seperti mu. Sekarang kamu sangat
Sukses, bahkan melebihi
bapa’mu.”
Danang : “iya Embo, Danang juga bangga.
Danang tak mempercayai ini. Dengan bermimpi dan bangun untuk mewujudkannya
serta di racik dengan do’a ternyata Tuhan berkehendak seperti ini. Secerdik dan
seindah apapun rencana kita. Tapi rencana Tuhan pasti lebih baik dari yang kita
duga.
Danang : “Embo…?”
Embo : “Ya Nang,?”
Danang : “Danang pengen kawin Embo, Danang
pengen melahirkan Para Pemimpi yang baru. Danang pengen melahirkan para pemimpi
yang tangguh.”
Embo : “Kalau itu yang kamu mau Nang,
Embo siap jadi Nenek.”
IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII
SELESAI IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII
0 komentar:
Posting Komentar